Rasa Syukur

Rasa Syukur

Ketika diri ini kembali bangun di pagi hari. Ada yang bangun sebelum matahari memperlihatkan dirinya dan ada pula yang bangun setelah matahari memperlihatkan dirinya. Mata ini terbuka dengan perlahan, yang kemudian melihat sekitaran dengan samar-samar dan kemudian melihat dengan sedikit lebih baik secara berangsur-angsur. Nafas ini berhembus dengan perlahan. Lalu kemudian sang raga bangkit dari tempat rebahannya, duduk sejenak dan melihat sekitarannya.

Pada fase ini, apakah diri sadar akan rasa syukur atas kesempatan yang kembali diberikan oleh-Nya? Rasa syukur atas nikmat kembali bisa bangun pagi, nikmat bisa melihat, nikmat bisa bernafas dengan baik, nikmat dapat bergerak dengan baik. Sehingga diri ini dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan sebaik-baiknya nikmat. Maka diri akan berucap syukur kepada Sang Pencipta.

Atau justru diri melupakan rasa syukur itu dengan segera memikirkan pekerjaan setelah bangun dari istirahat malamnya? Selepas bangun, segera memikirkan pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan pada hari ini. Harus jumpa dengan fulan A pada jam sekian, fulan B jam sekian. Jika seperti ini, maka diri telah melewatkan sebagian waktu pagi dengan sia-sia. Diri telah melupakan bahwa segala nikmat aktivitas sehari-hari semua itu atas izin-Nya.

Sekarang, bisa menanyakan kepada diri sendiri. Diposisi manakah diri ini berada ketika pagi hari tiba? Apakah diri yang merasa bersyukur atau diri melupakan rasa bersyukur?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *