Resparasi Suasana Hati

Resparasi Suasana Hati

Kelar dari gelar sarjana bidang informatika, aku bersyukur apa yang aku peroleh sekarang ini. Bekerja disalah satu perusahaan telekomunikasi ternama yang mungkin banyak orang lain menginginkan masuk ke perusahaan ini. Bukan aku menyombongkan diri. Jika menarik ulur ke belakang, butuh perjuangan yang keras untuk masuk ke perusahaan ini. Sekian banyak pelamar ingin berada di dalam gedung megah ini.

Duduk sebagai pegawai pada divisi programming. Aku menyukai hal-hal yang berbau programming. Karena aku tahu itu adalah dunia ku, maka disitulah aku menempah kemampuan ku. Meskipun aku menyukai banyak hal lainnya seperti bermain musik, tapi dunia programming adalah dunia ku. Ketika masa SMA-lah aku mengenal dunia programming dan aku jatuh cinta pada dunia itu.

Aku merasakan hal yang sangat aneh dari biasanya. Entah datang darimana rasa keanehan itu. Seperti ada yang mengganjal hari-hari akhir ini saat aku bekerja. Aku tahu pasti itu bukan karena masalah gaji, karena aku tahu kapasitas pribadi ini. Bukan juga karena kau melakukan kesalahan saat bekerja, karena aku memperhatikan betul apa-apa yang aku kerjakan dengan seksama mungkin. Bukan juga karena teman-teman kerja ku yang membuat rasa keanehan ini muncul, karena teman-teman ku sangat asyik untuk diajak berdiskusi maupun bercanda.

“Udah beberapa minggu akhir ini aku melihat mu seperti tidak semangat? Ada masalah?” tanya rekan ku yang persis berada di samping meja kerja ku.

Aku mendengar ucapan rekan ku itu. Yakin ku dia sudah memperhatikan sikap keanehan ini beberapa waktu belakang ini. “Tidak ada. Aku merasa baik-baik saja, tapi…” ucapakan ku berhenti ditengah waktu dan aku tidak tahu kenapa alasannya bisa jadi seperti tidak berdaya untuk saat ini.

“Tapi kenapa?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini.”

Tidak seperti biasanya aku bekerja seperti biasanya. Aku menyukai pekerjaan ini dan aku menikmatinya. Tapi tidak untuk kali ini. Seketika semangat itu hilang atau entah bersembunyi dimana.

“Hmm, ada masalah dengan pacar mu?”

“Tidak, kan tau sendiri kalau aku belum punya pacar.”

Rekan ku yang lebih senior, dua tahun di atas ku hanya tersenyum kecil saja. Melipat tangannya dan memutar kursi kerjanya ke arah ku.

“Jangan terlalu dipikirkan hal yang tidak penting untuk dipikirkan. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan” katanya kepada ku.

Lalu aku terdiam tanpa berkata apa-apa. Tatapan hanya tertuju kepada layar komputer yang ada di depan ku. “Aku harus seperti apa?” tanya batin ku.

Waktu bergerak maju dengan cepat. Seperti biasanya aku membawa segelas susu cokelat hangat untuk menemani kerja pagi ku. Biasanya dengan hanya meminum susu cokelat hangat, gairah bekerja ku akan bertambah. Tapi sekali lagi, tidak untuk kali ini. Seketika energi dari susu cokelat hangat itu pergi tanpa meniggalkan jejak dan alasan untuk membangkitkan gairah bekerja ku.

“Gilang, bisa ke ruangan saya? tolong bawakan konsep yang minggu lalu saya kasih ya?” atasan ku memanggil. Perhatian ku segera tertuju pada laki-laki berperawakan tinggi besar, kulit putih, rambut disisir dengan rapih, kiri-kanan sisi rambut terlhat memiliki nomor tiga, hiasan minyak rambut pun terlihat dirambutnya, lengkap dengan kacamata bermerek internasional.

“Baik pak.” Kata ku sigap. Mencari file konsep yang diminta. Semoga saja aku tidak lupa dimana kau letakkan file itu. Raut wajah ku sangat datar. Pikiran ku bercabang entah kemana saja arahnya. Seperti ranting pohon yang bercabang.

“Permisi pak.” Kata ku seraya mengetuk pintu.

“Ya, silahkan masuk.”

“Ini pak konsep yang bapak minta dibuat minggu lalu.” Seraya aku memberikan file konsep.

Laki-laki yang ada dihadapan ku saat ini membaca konsep yang sudah aku buat dalam kurun waktu satu minggu ke belakang. Aku hanya diam menunggu kata-kata yang diucapkan oleh beliau.

“Gilang.” Atasan ku mulai berbicara.

“Ya pak?”

“Saya sudah memperhatikan kamu beberapa waktu belakangan ini. Kamu ada masalah?”

“Tidak ada pak. Semua aman-aman saja” aku terpaksa ngelabui atasan ku untuk tetap terlihat seperti biasanya.

Atasan ku tersenyum mendengar perkataan ku ini.

“Saya tahu kamu Gilang. Tidak seperti biasanya kamu seperti ini. Setiap saya berikan tugas, kamu selalu kasih konsep yang menarik. Tapi tidak untuk kali ini.”

Benar sekali. Tebakkan beliau sangat akurat sekali. Padahal ruangan ku dengan ruangannya dipisahkan oleh beberapa sekat ruangan lainnya. Tapi beliau mengetahui hal kecil ini yang tidak aku umbar kemana-mana. Aku hanya bisa terdiam.

“Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa saya bisa mengetahui hal itu?”

Aku menunggu lanjutan ucapannya.

“Saya selalu memperhatikan kinerja staf-staf saya, siapapun itu sampai ke satpam dan office boy yang ada di perusahaan ini. Salah satunya kamu, Gilang. Dari raut wajah kamu saya sudah memperhatikan ada hal yang mengganjal yang kemudian berdampak kepada hasil kerja kamu.”

“Maksudnya pak? Mengganjal?”

“Terkadang kita memiliki sesuatu hal yang ingin dikatakan, tapi kita sendiri masih mencari tahu apa yang ingin dikatakan. Hal tersebut masih sangat abstrak. Itu yang membuat pikiran kacau. Mungkin juga kita sudah tahu apa yang inign dikatakan, tapi enggan untuk mengatakannya dan memilih untuk memendam. Berat sekali itu rasanya.”

Ya, beliau benar. Aku berada pada pilihan pertama dari ucapan beliau. Pikiran ku saat ini abstrak. Abstrak yang tidak bernilai. Aku paham apa yang dikatakan olehnya. Duduk dalam keadaan diam membisu dihadapan atasan. Mata entah menatap kemana arahnya. Meratapi semuanya.

“Saya juga pernah merasakan seperti kamu saat ini. Semua hal memang terpikirkan baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang mengganjal dan itu abstrak.”

Arah mata ku kembali tertuju kepada beliau. Isyarat ingin mendengar ucapan berikutnya.

“Mungkin kamu saat ini sedang berada dalam posisi rasa jenuh dalam pekerjaan. Itu hal yang wajar.” Dengen tenang beliau berkata.

Satu kata yang terekam oleh pikiran ku, “jenuh”. Lalu aku bertanya dengan diri sendiri, “Apakah ini yang rasanya jenuh?”

“Apa yang saya lakukan waktu itu ketika jenuh dengan pekerjaan saya? kamu bisa menebak?”

“Bermain golf, mungkin?” aku menebak itu karena di atas meja beliau ada hiasan terkait olahraga golf.

Beliau tersenyum. “Kurang tepat”, ucapnya.

Aku pun dibuat bingung olehnya.

“Saya meminta cuti kepada atasan saya untuk beberapa hari dan saya gunakan untuk pergi berlibur. Karena saat itu saya masih menabung untuk membeli perlengkapan golf” jelasnya.

Kembali aku bertanya kepada diri sendiri, “Ambil cuti? Liburan?” kenapa aku tidak kepirikan seperti itu. Memang ini karena abstraknya pikiran ku. Aku mulai tersenyum kecil. Atasan ku pun melihatnya dan ikut tersenyum kecil.

“Ambil jatah cuti mu. Gunakan semaksimal mungkin untuk menghilangkan rasa jenuh mu itu. Meskipun kamu menyukai pekerjaan ini, tapi tidak seutuhnya pekerjaan ini dapat menghilangkan rasa jenuh. Setiap individu memiliki hal yang disukai dari apa yang lebih disukai.” Kata atasan ku.

Dari atasan ku, aku belajar bahwa memiliki hal lain yang disukai akan membangkitkan rasa semangat untuk melakukan hal apa yang lebih disukai. Mungkin aku menyebutnya dengan istilah “resparasi suasana hati”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *